Indonesia menghadapi banjir hoaks, radikalisme online, dan kecanduan gadget yang mengancam mental serta iman generasi muda, dengan data menunjukkan ribuan kasus penyebaran konten negatif setiap bulan. Di era digital 2025, pelajar sering terjebak algoritma yang mempromosikan ekstremisme atau budaya toksik, sementara literasi digital berbasis Islam masih minim. Kampus seperti STIT Babussalam Aceh Tenggara siap memimpin solusi melalui pendidikan tarbiyah yang integratif.
Masalah Saat Ini di Indonesia
Hoaks politik dan agama menyebar cepat di TikTok serta Instagram, memicu konflik sosial dan polarisasi, khususnya menjelang Pemilu 2029. Radikalisme digital menyasar remaja melalui konten terselubung, sementara kecanduan gadget menyebabkan penurunan prestasi belajar hingga 30% di kalangan siswa. Pendidikan formal sering gagal membekali siswa dengan kemampuan verifikasi fakta Islami, sehingga nilai-nilai moderasi beragama tergerus.
Peran Strategis STIT Babussalam
Dengan program Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan PGMI, STIT Babussalam melatih calon guru untuk mengajarkan literasi digital Islami sejak dini. Fasilitas perpustakaan digital dan pusat kajian moderasi beragama menjadi laboratorium praktik verifikasi hoaks berbasis Al-Qur’an dan Sunnah. Mahasiswa diajak membangun aplikasi edukasi Islami atau kampanye anti-radikalisme, memadukan teknologi dengan akhlak mulia.
Solusi Konkret dan Ajakan Bergabung
Kembangkan kurikulum hybrid: 50% teori literasi digital, 50% praktik moderasi beragama melalui simulasi media sosial. Kolaborasi dengan Kemenag untuk workshop anti-hoaks nasional, plus asrama Islami untuk pembiasaan digital sehat. Pilih STIT Babussalam untuk jadi agen perubahan—daftar sekarang dan selamatkan generasi dari jebakan digital!


Leave a Reply