Pencegahan Radikalisme di Lingkungan Pendidikan

·

·

Di era keterbukaan informasi, arus ideologi yang ekstrem dan intoleran dapat dengan mudah menyusup ke ruang-ruang publik, termasuk institusi pendidikan. Fenomena Radikalisme dan penyebaran paham eksklusif menjadi ancaman serius bagi keharmonisan sosial dan persatuan bangsa. Lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab utama untuk menjadi benteng pertahanan ideologi yang kokoh.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Babussalam Riau menyadari peran strategisnya sebagai pencetak guru dan pemimpin pendidikan. Kampus ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga secara aktif menanamkan nilai-nilai Moderasi Beragama (Wasathiyah Islam), memastikan setiap lulusan menjadi agen perdamaian, toleransi, dan intelektual yang mencerahkan.


Tiga Strategi STIT Babussalam dalam Mengawal Moderasi Beragama

STIT Babussalam mengintegrasikan upaya pencegahan radikalisme melalui kurikulum, pembinaan karakter, dan keterlibatan komunitas:

1. Kurikulum Berbasis Wasathiyah Islam

Kurikulum di STIT Babussalam dirancang untuk menumbuhkan pemahaman yang komprehensif, kontekstual, dan moderat terhadap ajaran Islam.

  • Kajian Fikih Multiperspektif: Mahasiswa didorong untuk mempelajari berbagai pandangan ulama (khazanah turats) dan memahami sebab-sebab perbedaan pendapat (ikhtilaf), sehingga menumbuhkan sikap lapang dada dan menghargai pluralitas (keragaman) dalam pemahaman agama.
  • Wawasan Kebangsaan: Mata kuliah disisipkan dengan materi tentang Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, menegaskan bahwa menjadi Muslim yang baik berarti menjadi warga negara yang baik, sesuai dengan konsep Hubbul Wathan minal Iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

2. Pembinaan Karakter dan Kepemimpinan yang Inklusif

Pencegahan radikalisme efektif dilakukan melalui pembinaan karakter yang kuat dan kemampuan sosial yang matang.

  • Literasi Media dan Tabayyun: Mahasiswa dilatih keterampilan literasi digital untuk menyaring informasi, melawan hoaks, dan mempraktikkan prinsip Tabayyun (klarifikasi atau verifikasi) terhadap informasi yang masuk, terutama yang berpotensi memecah belah.
  • Simulasi Kerukunan: Kegiatan ekstrakurikuler dan praktik lapangan diarahkan pada kolaborasi dengan berbagai kelompok agama dan sosial, melatih mahasiswa untuk memimpin dan berinteraksi secara inklusif di tengah masyarakat yang majemuk.

3. Peran Dosen sebagai Teladan dan Konselor Ideologi

Keberhasilan pencegahan radikalisme sangat bergantung pada teladan yang diberikan oleh para pengajar.

  • Dosen Bersertifikat: STIT Babussalam memastikan dosen-dosennya memiliki pemahaman yang mendalam dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan dan moderasi. Mereka bertindak sebagai konselor ideologi yang siap membimbing dan mendiskusikan isu-isu sensitif secara terbuka dan rasional.
  • Pengabdian Berbasis Moderasi: Kampus aktif melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa seminar atau lokakarya tentang moderasi beragama di sekolah-sekolah dan komunitas di Riau.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *