Krisis akhlak dan bullying di kalangan pelajar Indonesia kian mengkhawatirkan, dengan kasus kekerasan fisik, verbal, dan cyberbullying yang melonjak tajam sepanjang 2025. Fenomena ini bukan hanya persoalan disiplin sekolah, melainkan gejala kegagalan pembentukan karakter yang berakar pada lemahnya pendidikan nilai Islam di tengah arus digital. STIT Babussalam Aceh Tenggara, dengan semangat “Gerbang Kedamaian”, hadir sebagai solusi nyata melalui pendekatan tarbiyah integratif.
Fenomena Bullying Saat Ini
Lonjakan kasus bullying di sekolah dan kampus mencapai rekor tertinggi, didorong oleh paparan media sosial yang memicu intoleransi dan kekerasan simbolik. Di Aceh Tenggara dan wilayah lain, pelajar sering terjebak dalam lingkaran perundungan karena minimnya literasi emosional dan agama, ditambah kultur kompetisi toksik. Akibatnya, korban mengalami trauma jangka panjang, sementara pelaku kehilangan potensi menjadi generasi berakhlak mulia.
Akar Masalah dari Perspektif Tarbiyah Islam
Krisis ini berpangkal pada keterpisahan ilmu dan iman, di mana pelajar hafal ayat tapi lupa mengamalkannya dalam interaksi sehari-hari. Kurikulum pendidikan Islam nasional masih lemah dalam membangun moderasi beragama dan ketahanan akhlak digital, sehingga bullying menjadi wujud nyata dari radikalisme emosional. Tanpa pembinaan karakter holistik, generasi muda rentan terhadap hoaks kebencian dan budaya instan yang merusak adab.
Solusi STIT Babussalam
STIT Babussalam menawarkan jawaban konkret melalui program Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan 45 mahasiswa aktif, Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dengan 32 mahasiswa, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dengan 51 mahasiswa. Fasilitas seperti Pusat Kajian Islam dan Moderasi Beragama, perpustakaan digital, serta asrama islami membentuk calon guru yang mampu ciptakan kelas bebas bullying melalui pembiasaan ibadah dan bimbingan akademik intensif.
- Lingkungan Islami Kondusif: Ruang dosen dan kegiatan mahasiswa perkuat interaksi dosen-mahasiswa untuk pembinaan karakter harian.
- Teknologi & Literasi Digital: Mahasiswa dilatih hadapi era digital dengan konten dakwah damai, cegah cyberbullying.
- Testimoni Nyata: Seperti Nur Aisyah (PAI) yang belajar jadi guru sabar dan kritis, atau Muhammad Rizal (MPI) yang temukan cahaya ilmu di lingkungan religius.
Kampus ini integrasikan ilmu, iman, dan akhlak untuk lahirkan pendidik profesional yang ubah sekolah jadi oasis kedamaian. Bergabunglah di STIT Babussalam—hubungi +62 812-3456-7890—dan jadi bagian dari perubahan.


Leave a Reply