Mahasiswa dan anak muda hari ini hidup di tengah notifikasi tanpa henti: tugas kuliah, chat grup, konten media sosial, hingga ekspektasi keluarga dan lingkungan. Jika tidak dikelola, semua itu berubah menjadi kelelahan mental, rasa cemas, dan kehilangan semangat ibadah. Dalam Islam, hati yang lelah dan lalai adalah pintu terbuka bagi kegelisahan, sementara Allah memanggil hamba-Nya untuk kembali menata hidup dengan zikir dan tawakal.
Produktif dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, produktif bukan hanya soal sibuk, tapi soal seberapa banyak hidup ini membawa manfaat dan bernilai ibadah. Setiap aktivitas yang diniatkan karena Allah, dari belajar hingga bekerja, dapat bernilai pahala selama tidak melanggar syariat. Artinya, belajar serius, mengerjakan tugas tepat waktu, bahkan mengelola organisasi kampus dapat menjadi bagian dari ibadah bila disertai niat yang benar dan akhlak yang baik.
Tiga Kesalahan Umum Anak Muda
Beberapa pola yang sering membuat anak muda lelah tanpa sadar, antara lain:
- Menunda hal penting, mengejar hal instan: Tugas kuliah ditunda, tapi scroll media sosial berjam-jam.
- Ingin memuaskan semua orang: Takut mengecewakan dosen, orang tua, teman, hingga lupa menjaga kesehatan diri sendiri.
- Ibadah jadi sisipan, bukan pondasi: Ibadah dikerjakan sekadarnya, sementara energi terbaik justru habis untuk layar dan hiburan.
Rumus Sederhana “Anti Burnout” ala Islam
Beberapa langkah praktis untuk hidup lebih seimbang dan tenang:
- Niatkan ulang semua aktivitas
Setiap pagi, tanamkan niat: belajar untuk mencari rida Allah dan memberi manfaat bagi orang lain, bukan sekadar mengejar nilai atau pujian. - Atur waktu dengan blok ibadah
Jadikan salat lima waktu sebagai “tiang jadwal”, bukan gangguan di antara aktivitas; susun jam belajar dan istirahat mengelilingi waktu salat. - Batasi distraksi digital
Tetapkan waktu khusus membuka media sosial, misalnya setelah tugas selesai, dan matikan notifikasi yang tidak penting saat belajar. - Sisihkan waktu harian untuk menyepi
Beberapa menit zikir setelah salat, membaca Al-Qur’an, atau menulis jurnal syukur bisa menurunkan stres dan menyehatkan hati. - Latih “istirahat yang bernilai”
Istirahat bukan selalu berarti rebahan dengan ponsel; berbincang baik dengan keluarga, membantu orang tua, atau ikut kegiatan sosial juga bisa menyegarkan jiwa.
Menjaga Mental, Menjaga Iman
Kesehatan mental dan kekuatan iman saling berkaitan: hati yang dekat dengan Allah lebih siap menghadapi kegagalan, kritik, dan perubahan. Islam mengajarkan untuk tidak putus asa, terus berusaha, lalu menyerahkan hasil kepada Allah, sehingga beban hidup terasa lebih ringan. Dengan cara ini, produktivitas tidak lagi menjadi sumber tekanan, tetapi jalan tenang menuju kedewasaan dan kedekatan dengan Allah.


Leave a Reply