Mempersiapkan Guru PAI untuk Memimpin Transformasi Pendidikan Inklusif

·

·

Pendidikan Inklusif—yaitu sistem pendidikan yang memastikan semua anak, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), dapat belajar bersama dalam lingkungan yang sama—kini menjadi mandat nasional. Bagi lembaga pendidikan Islam, inklusivitas adalah perwujudan langsung dari ajaran Islam tentang kasih sayang universal (rahmatan lil alamin) dan keadilan. Namun, permasalahan hari ini adalah: Banyak guru PAI tidak memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan adaptasi kurikulum yang memadai untuk mengajar ABK.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Babussalam Riau menyikapi tantangan ini dengan serius. Institusi ini berkomitmen menghasilkan Sarjana Pendidikan Islam yang memiliki kompetensi ganda: menguasai ilmu agama yang mendalam dan keahlian khusus dalam pendidikan inklusif, menjadikan lulusan kami pelopor terciptanya madrasah dan sekolah Islam yang ramah bagi setiap siswa.


Tiga Kompetensi Utama Lulusan STIT Babussalam dalam Inklusivitas

STIT Babussalam mengintegrasikan modul inklusif ke dalam mata kuliah Tarbiyah, berfokus pada adaptasi dan konseling:

1. Adaptasi Kurikulum PAI untuk Berbagai Kebutuhan

Kurikulum yang sama tidak selalu efektif untuk semua siswa. Guru PAI harus mampu menyesuaikan materi agar dapat dipahami oleh ABK.

  • Modifikasi Pembelajaran: Mahasiswa dilatih teknik modifikasi kurikulum PAI, misalnya menyederhanakan materi Fikih, menggunakan alat bantu visual (VAK) untuk siswa autis, atau memanfaatkan metode storytelling Islami yang disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa dengan kesulitan belajar.
  • Penilaian yang Adil: Lulusan mampu merancang Penilaian Berbasis Individu (PPI) yang adil, memastikan evaluasi hasil belajar siswa ABK tidak menggunakan standar yang sama dengan siswa reguler, tetapi berfokus pada pencapaian pribadinya.

2. Konseling dan Pendampingan Psikologis-Islam

ABK dan orang tua mereka sering membutuhkan dukungan emosional dan spiritual.

  • Konseling Berbasis Tawakal: Lulusan dibekali keterampilan konseling dasar untuk mendampingi orang tua ABK, membantu mereka menerima kondisi anak dengan prinsip Tawakal (berserah diri) dan Syukur, serta memotivasi mereka untuk tetap aktif dalam pendidikan anak.
  • Manajemen Perilaku: Mahasiswa dilatih teknik manajemen perilaku positif (positive behavior management) untuk menangani tantangan perilaku tertentu yang mungkin ditunjukkan oleh ABK di dalam kelas.

3. Membangun Lingkungan Sekolah yang Zero Bullying

Lingkungan inklusif harus aman dan bebas dari perundungan (bullying). Guru PAI memiliki otoritas moral untuk membangun budaya kasih sayang.

  • Edukasi Toleransi dan Empati: Guru PAI lulusan STIT Babussalam berperan mengedukasi siswa reguler tentang pentingnya toleransi, empati, dan ukhuwah Islamiyah terhadap teman-teman ABK, mengubah stigma menjadi dukungan.
  • Peran Aktif Komunitas: Mahasiswa didorong bekerja sama dengan Komite Sekolah dan Yayasan untuk mengadvokasi alokasi sumber daya (sarana dan prasarana) yang mendukung kebutuhan ABK (misalnya, toilet yang ramah disabilitas).

Penutup: STIT Babussalam, Mewujudkan Pendidikan Islam yang Sejati

Memilih STIT Babussalam Riau adalah memilih menjadi Guru PAI Transformasional—pendidik yang mampu melihat potensi dan keindahan dalam setiap ciptaan Allah SWT. Lulusan kami siap memimpin pergerakan menuju Pendidikan Islam Inklusif yang lebih adil, berempati, dan sesuai dengan semangat rahmatan lil alamin.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *