Pendidik masa kini menghadapi tantangan terbesar: merebut perhatian siswa yang tumbuh di tengah banjir informasi digital (Generasi Z dan Alpha). Metode pengajaran tradisional yang hanya mengandalkan ceramah di kelas tidak lagi efektif. Guru PAI dan Madrasah kini harus bertransformasi menjadi Guru-Kreator—individu yang mahir merancang kurikulum digital dan mengembangkan konten edukasi Islam yang menarik, relevan, dan viral secara positif.
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Babussalam Riau menyadari pentingnya kemampuan ini. Institusi ini berkomitmen menghasilkan Sarjana Pendidikan Islam yang memiliki keahlian ganda: kompetensi keagamaan yang mendalam dan skill kreatif digital yang mumpuni.
Tiga Inovasi Kurikulum STIT Babussalam untuk Guru Kreatif
STIT Babussalam mengintegrasikan kompetensi digital dan kreatif langsung ke dalam mata kuliah Tarbiyah:
1. Pengembangan Kurikulum Berbasis Proyek Digital
Mahasiswa tidak hanya belajar menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi juga merancang seluruh proyek pembelajaran yang menggunakan platform digital.
- Desain Pembelajaran Interaktif: Mahasiswa dilatih menggunakan tools seperti Canva, video editing dasar, dan platform gamification (seperti Kahoot!) untuk mengubah materi Fikih atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) menjadi pengalaman belajar yang menarik.
- Proyek E-Learning: Mengembangkan modul e-learning mandiri yang bisa diakses siswa di luar jam sekolah, memastikan pembelajaran Islam dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
2. Literasi Media dan Etika Dakwah Digital
Guru PAI adalah penjaga etika digital bagi siswanya. STIT Babussalam membekali lulusannya dengan pemahaman mendalam tentang ekosistem media sosial.
- Dakwah Content Creation: Mahasiswa dilatih memproduksi konten dakwah yang moderat dan positive, seperti podcast Islami, infografis hadis, atau video reel yang menjawab pertanyaan agama dari perspektif remaja.
- Manajemen Komentar dan Cyberbullying: Mengajarkan cara mengelola komentar negatif dan menangani isu cyberbullying yang melibatkan siswa, menggunakan prinsip tabayyun dan mediasi Islami.
3. Penelitian Aksi dan Inovasi Metode Pengajaran
STIT Babussalam mendorong mahasiswa untuk secara aktif melakukan penelitian terhadap efektivitas konten digital yang mereka buat.
- Action Research di Kelas: Mahasiswa melakukan penelitian berbasis praktik di sekolah mitra, menguji metode pengajaran digital mana yang paling efektif meningkatkan pemahaman dan akhlak siswa di Riau.
- Menciptakan Metode Baru: Lulusan didorong menciptakan Metode Pembelajaran PAI Temuan Baru yang dipatenkan, menjadikan mereka inovator sejati di bidang pendidikan Islam.
Memilih STIT Babussalam Riau adalah berinvestasi untuk menjadi Guru Idola—pendidik yang ilmunya dalam dan penyampaiannya modern. Lulusan kami siap memimpin pendidikan Islam dengan pena dan kamera, memastikan ajaran agama tetap relevan dan menarik di hati generasi digital.


Leave a Reply