Kuliah di Era Scroll: Kenapa Gen Z Butuh Kampus yang Bikin Iman, Pikiran, dan Skill Satu Frekuensi?

·

·

Gen Z hidup di zaman ketika azan kadang kalah cepat dari notifikasi. Timeline selalu penuh: konten dakwah, gosip, quote self-healing, sampai debat agama yang bikin bingung sendiri. Di tengah hiruk pikuk itu, banyak yang diam-diam bertanya: “Gimana caranya tetap waras, beriman, dan tetap relevan di dunia kerja yang serba kompetitif?”.

STIT Babussalam Aceh Tenggara hadir justru di titik galau itu: bukan cuma ngajarin teori di kelas, tapi menemani proses mencari arah — biar iman tetap nancep, akal tetap kritis, dan skill siap dipakai di lapangan.


Gen Z: Melek Digital, Tapi Haus Makna

Anak muda hari ini gampang akses ilmu, tapi juga gampang lelah. Segala hal bisa dicari di internet, tapi gak semua bisa menjawab kegelisahan hati. Banyak yang rajin ikut kajian online, nonton konten Islami, donasi digital, tapi masih merasa: “Kok hidupku begini-begini aja?”.

Di titik ini, pendidikan Islam bukan lagi cukup dengan ceramah searah. Gen Z butuh ruang dialog, diskusi, praktik, dan pengalaman yang bikin ajaran agama terasa dekat dengan problem sehari-hari: kesehatan mental, overthinking, keragaman, sampai masa depan karier.


Apa yang Bikin STIT Babussalam Relevan untuk Gen Z?

Di STIT Babussalam, kuliah tarbiyah bukan berarti terjebak di masa lalu. Kampus ini tumbuh dari tradisi keilmuan Islam, tapi peka dengan tantangan zaman digital. Beberapa hal yang membuatnya menarik untuk Gen Z:

  • Lingkungan yang nge-blend antara nuansa pesantren, kampus, dan ruang kreatif untuk bereksperimen dengan ide-ide baru tentang pendidikan Islam.
  • Fasilitas pembelajaran yang menggabungkan kelas, pusat kajian, dan literasi digital, sehingga mahasiswa terbiasa menyeimbangkan kitab, buku, dan layar.
  • Budaya akademik yang mendorong pertanyaan kritis: bukan hanya “apa hukumnya?”, tapi juga “apa dampaknya?” dan “bagaimana cara menerapkannya di konteks sekarang?”.

Di sini, generasi baru guru dan pengelola pendidikan Islam dipersiapkan untuk nyambung dengan bahasa dunia: memahami teknologi, budaya populer, dan dinamika sosial tanpa kehilangan akar keislaman.


Belajar Jadi Pendidik yang Dekat dengan Realitas

Tiga program studi — Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) — bukan sekadar nama prodi di brosur. Masing-masing dirancang agar lulusannya bisa jadi sosok pendidik yang “ngerti lapangan”, bukan cuma hafal teori.

  • Mahasiswa PAI dilatih mengemas ajaran Islam supaya bisa dipahami generasi yang tumbuh dengan meme, video pendek, dan budaya instan, tanpa mengurangi kedalaman maknanya.
  • Mahasiswa MPI diajak melihat sekolah dan madrasah bukan hanya sebagai tempat belajar, tapi sebagai ruang pengelolaan manusia, nilai, dan sistem yang harus adaptif terhadap perubahan.
  • Mahasiswa PGMI disiapkan untuk menjadi guru yang bisa membuat anak-anak mencintai pelajaran agama sejak dini, melalui metode kreatif dan empatik.

Semua itu ditopang oleh bimbingan akademik yang intens, ruang dosen yang terbuka, dan kultur kampus yang biasa berdialog, bukan menghakimi.


Asrama, Masjid, dan Timeline: Tempat Karakter Ditetapkan

Bagi banyak Gen Z, “rumah kedua” bukan cuma asrama, tapi juga grup chat, circle, dan komunitas tempat mereka merasa diterima. Asrama dan kegiatan kemahasiswaan di STIT Babussalam sengaja dirancang sebagai ruang pembiasaan ibadah, diskusi keislaman, dan aksi sosial yang relevan dengan isu hari ini.

  • Kegiatan keislaman tidak berhenti di masjid kampus, tapi dirajut dengan gerakan sosial, dakwah kreatif, dan literasi digital.
  • Relasi antara dosen dan mahasiswa lebih mirip relasi pembimbing: mengarahkan, mendengar, dan membuka ruang eksplorasi minat.

Di titik ini, kuliah bukan sekadar perburuan ijazah. Kuliah menjadi perjalanan menjadi versi diri yang lebih utuh: berilmu, beriman, dan punya sensitivitas sosial yang kuat.


Bukan Hanya Lulus, Tapi Siap Mengabdi

Lulusan STIT Babussalam diarahkan untuk menjadi pendidik yang tidak anti-perubahan, tapi juga tidak larut dalam arus tanpa kompas. Dengan bekal integrasi antara ilmu, iman, dan akhlak, mereka diharapkan mampu hadir di sekolah, madrasah, lembaga pendidikan, atau komunitas sebagai pembawa kedamaian.

Mereka bukan hanya menjelaskan ayat, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam tindakan: mengelola kelas dengan adil, mendengar murid dengan sabar, mengedukasi masyarakat dengan bijak, dan memanfaatkan teknologi untuk dakwah yang menyejukkan.

Jika Gen Z sering disebut sebagai generasi yang sedang mencari jati diri, STIT Babussalam ingin menjadi salah satu tempat di mana pencarian itu diarahkan: bukan dihapus, bukan dihakimi, tetapi dituntun sampai menemukan makna.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *