Kampus Islami Pembentuk Guru Cerdas dan Berkarakter

·

·

Indonesia sedang menghadapi banyak persoalan besar, tetapi salah satu yang paling terasa di kampus-kampus dan ruang kelas adalah krisis karakter dan moral generasi muda di tengah derasnya arus digital dan menguatnya sikap intoleran. Artikel ini mengajak pembaca STIT Babussalam melihat persoalan itu dari kacamata tarbiyah Islam, sekaligus merenung: apa peran kampus Islam seperti Babussalam dalam menjawabnya.

Krisis karakter di era digital

Banyak kajian menyebut Indonesia tengah menghadapi penurunan moral dan etika di kalangan anak dan remaja: tawuran, bullying, kekerasan seksual, gaya hidup hedonis, hingga normalisasi kecurangan akademik seperti menyontek dan plagiarisme. Arus media sosial yang cepat, budaya serba instan, dan banjir informasi tanpa filter membuat sebagian generasi muda mudah terseret tren, tetapi lemah pada pondasi nilai, empati, dan tanggung jawab.

Di sekolah dan kampus, kasus perundungan, kekerasan, hingga tekanan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya berorientasi pada kemanusiaan menunjukkan bahwa pendidikan karakter seringkali masih menjadi “pelengkap”, bukan jantung dari proses belajar. Padahal, tanpa karakter yang kokoh, kecerdasan akademik justru berisiko menjadi pisau tajam tanpa arah yang jelas.

Pendidikan yang kehilangan ruh

Berbagai penelitian mutakhir tentang pendidikan karakter di Indonesia menegaskan bahwa banyak siswa memahami nilai Pancasila dan akhlak hanya sebatas hafalan, belum menjadi kebiasaan hidup. Di kelas, murid diajarkan tentang kejujuran, tetapi di saat yang sama mereka menyaksikan praktik kecurangan, manipulasi nilai, dan budaya serba “hasil akhir” yang mengalahkan proses.

Orientasi pendidikan yang sangat menekankan angka, ranking, dan kejar kurikulum sering membuat guru kekurangan ruang untuk benar-benar mendidik hati, bukan sekadar menyelesaikan materi. Akibatnya, ruang dialog, keteladanan, dan pendampingan rohani yang seharusnya menjadi inti tarbiyah justru menyempit di tengah tekanan administrasi dan target capaian belajar.

Tantangan intoleransi dan moderasi beragama

Di sisi lain, Indonesia juga masih bergulat dengan persoalan intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan lembaga pemantau menyebut adanya lonjakan signifikan tindakan intoleransi dan diskriminasi, baik yang dilakukan oleh kelompok masyarakat maupun oleh institusi negara.

Di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia, moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik. Berbagai kalangan menegaskan bahwa nilai moderasi—seperti tawazun, tasamuh, dan ‘adl—perlu ditanamkan lebih kuat kepada generasi muda, terutama pada momentum-momentum politik dan sosial yang rawan polarisasi.

Peran kampus Islam seperti STIT Babussalam

Di sinilah kampus Islam memiliki posisi yang sangat strategis. STIT Babussalam Aceh Tenggara, misalnya, sejak awal berdiri membawa misi membentuk pendidik yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia dalam semangat Babussalam—“Gerbang Kedamaian”. Lingkungan belajar yang Islami, kondusif, dan berteknologi menjadi modal penting untuk menyiapkan guru-guru masa depan yang tidak hanya menguasai teori pendidikan, tetapi juga menjadi teladan akhlak di tengah masyarakat.

Melalui program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), kampus ini berpeluang besar melahirkan lulusan yang mampu menjawab problem krisis moral, kekerasan di sekolah, dan lemahnya pendidikan karakter sejak bangku dasar. Integrasi teknologi dan literasi digital yang dikembangkan kampus juga dapat diarahkan bukan sekadar untuk kecakapan teknis, tetapi untuk membangun kesadaran etis dan adab bermedia di era society 5.0.

Menghidupkan kembali ruh tarbiyah

Jawaban terhadap krisis Indonesia hari ini tidak cukup dengan regulasi dan kurikulum baru; ia memerlukan generasi pendidik yang menjadikan ilmu, iman, dan akhlak sebagai satu kesatuan yang hidup dalam keseharian. Melalui pusat kajian Islam, moderasi beragama, bimbingan akademik intensif, dan ekosistem asrama yang membiasakan ibadah serta aktivitas sosial, kampus seperti STIT Babussalam dapat menjadi laboratorium nyata pembentukan karakter calon guru.

Ketika para lulusan kembali ke sekolah, madrasah, dan pesantren dengan membawa teladan integritas, kepedulian, dan sikap moderat, di situlah harapan itu tumbuh: bahwa Indonesia kelak tidak hanya diisi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Dengan begitu, krisis yang hari ini terasa mengkhawatirkan bisa perlahan diubah menjadi peluang kebangkitan, dimulai dari ruang-ruang kelas yang ditata dengan ruh tarbiyah yang utuh.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *