Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan alat yang mengubah cara belajar dan mengajar. AI dapat mempersonalisasi materi, mengoreksi tugas, dan menjadi asisten bagi guru. Namun, permasalahan hari ini adalah: Kurangnya kesiapan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mengintegrasikan AI secara etis dan efektif. Dikhawatirkan, ketergantungan pada AI dapat mengurangi interaksi otentik, memicu plagiarisme, dan mengikis peran guru dalam pembentukan Akhlak dan Karakter spiritual siswa.
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Babussalam Riau menyadari bahwa menolak AI adalah kemunduran. Kami berkomitmen menghasilkan Guru PAI Progresif yang tidak hanya mahir menggunakan AI sebagai alat bantu pengajaran (EdTech), tetapi juga mampu menjaga Keseimbangan Moral dan Etika Islami, memastikan teknologi menjadi khidmat (pelayan) bagi tujuan utama Tarbiyah—mencetak insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Tiga Kompetensi Utama STIT Babussalam dalam Integrasi AI dan PAI
STIT Babussalam melatih calon pendidik untuk menjadi pemimpin teknologi yang beretika:
- Menguasai AI sebagai Teaching Assistant dan Personalized Tutor
Guru PAI harus mampu memanfaatkan efisiensi AI untuk membebaskan waktu mereka agar fokus pada pembentukan karakter.
Personalisasi Pembelajaran: Mahasiswa dilatih menggunakan alat AI untuk melakukan asesmen diagnostik cepat pada materi PAI, sehingga mereka dapat mengidentifikasi siswa mana yang kesulitan dalam Tajwid, Fiqih, atau Aqidah, dan memberikan materi remedial yang disesuaikan (Personalized Learning).
Automasi Tugas Administratif: Guru PAI dididik untuk menggunakan AI dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau membuat bank soal, sehingga waktu guru dapat dialihkan untuk mentoring, konseling, dan interaksi spiritual yang otentik.
- Mengajarkan Etika Digital dan Melawan Digital Dishonesty
AI mempermudah siswa untuk melakukan kecurangan akademik, menantang konsep Amanah dan Kejujuran (Shiddiq).
AI dan Academic Integrity Islami: Lulusan dibekali skill untuk mengidentifikasi teks yang sepenuhnya dihasilkan AI dan mengajarkan siswa tentang Etika Iqtibas (pengutipan) dan Plagiarisme dari perspektif Islam. Penekanan diletakkan pada pentingnya kejujuran sebagai fondasi keimanan.
Memanfaatkan AI untuk Critical Thinking: Guru PAI dilatih merancang tugas PAI yang menuntut analisis, sintesis, dan refleksi spiritual (misalnya, membuat esai reflektif tentang penerapan Sabr di era digital) yang tidak dapat dihasilkan sepenuhnya oleh AI.
- Menjaga Peran Sentral Guru dalam Pembentukan Akhlak (Tarbiyah Ruhaniyah)
AI dapat memberikan informasi, tetapi tidak dapat menanamkan ruh dan hidayah.
Fokus pada Modeling dan Uswah Hasanah: Lulusan diajarkan bahwa peran utama mereka adalah sebagai Uswah Hasanah (teladan baik). AI tidak dapat menggantikan kehangatan, empati, dan role modeling yang esensial dalam pengajaran Akhlak.
Integrasi Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Kurikulum STIT Babussalam menekankan metode Tarbiyah Ruhaniyah di mana guru memimpin sesi Tadabbur, Dzikir, dan muhasabah, memastikan teknologi tetap menjadi sarana, bukan tujuan, dalam pencarian spiritual siswa.


Leave a Reply