Guru PAI STIT Babussalam dalam Merevolusi Pembelajaran Blended dan Personalized Learning

·

·

Pandemi COVID-19 telah meninggalkan jejak serius dalam dunia pendidikan, yang dikenal sebagai Learning Loss—ketertinggalan materi dan penurunan kompetensi belajar siswa secara signifikan. Di madrasah dan sekolah Islam, masalah ini tidak hanya menyentuh mata pelajaran umum, tetapi juga Pendidikan Agama Islam (PAI), di mana pemahaman nilai, hafalan Qur’an/Hadis, dan keterampilan praktik ibadah menjadi terhambat. Permasalahan hari ini adalah: Metode pengajaran konvensional tidak lagi efektif untuk mengejar ketertinggalan yang beragam (gap) pada setiap siswa.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Babussalam Riau menyadari bahwa pemulihan kualitas pendidikan membutuhkan Guru PAI Transformasional yang menguasai dua pendekatan kunci: Blended Learning (kombinasi tatap muka dan online) dan Personalized Learning (pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu). Kami berkomitmen menghasilkan lulusan yang siap memimpin pemulihan akademik ini.


Tiga Strategi Kunci STIT Babussalam untuk Mengatasi Learning Loss

STIT Babussalam melatih calon pendidik untuk mengintegrasikan teknologi dan strategi individual ke dalam pengajaran PAI:

1. Desain Pembelajaran Blended yang Efektif dan Berkarakter

Guru PAI harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pembelajaran tatap muka.

  • Model Flipped Classroom Islami: Mahasiswa dilatih merancang model Flipped Classroom, di mana siswa mempelajari konsep dasar (misalnya, video tentang tata cara wudu atau kisah Nabi) di rumah (online). Waktu tatap muka kemudian digunakan secara intensif untuk diskusi, praktik, dan Tadabbur mendalam, memaksimalkan interaksi guru-siswa.
  • Pemanfaatan LMS dan E-Modul PAI: Lulusan dibekali skill menggunakan Learning Management System (LMS) untuk menyediakan materi tambahan, kuis interaktif, dan asesmen diagnostik yang cepat, membantu guru mengidentifikasi titik lemah siswa dengan efisien.

2. Implementasi Personalized Learning untuk Mengejar Gap Kompetensi

Setiap siswa memiliki tingkat Learning Loss yang berbeda. Pembelajaran harus disesuaikan.

  • Asesmen Diagnostik PAI: Guru PAI dilatih melakukan Asesmen Diagnostik yang cepat di awal tahun ajaran untuk memetakan tingkat penguasaan siswa dalam kompetensi dasar PAI (misalnya, hafalan surat pendek, praktik salat, atau pemahaman Aqidah).
  • Kelompok Belajar Diferensiasi: Berdasarkan hasil asesmen, lulusan mampu membagi siswa ke dalam kelompok belajar yang berbeda: Kelompok Remedial (untuk mengejar ketertinggalan dasar) dan Kelompok Pengayaan (untuk mendalami materi), memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.

3. Dukungan Kesejahteraan Emosional (Wellbeing) Siswa

Learning Loss seringkali disertai dengan masalah psikologis (stres, kecemasan). Guru PAI harus menjadi konselor spiritual.

  • Konseling Spiritual: Lulusan dibekali skill untuk memberikan konseling spiritual dasar, menggunakan ajaran Sabr dan Tawakkal untuk membantu siswa dan orang tua mengelola stres akademik dan membangun motivasi belajar.
  • Membangun Komunitas Belajar Aman: Mampu menciptakan iklim kelas yang aman dan inklusif, di mana siswa merasa nyaman mengakui kesulitan belajarnya tanpa takut dihakimi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *