Dilema Pendidikan Islam di Era Digital
Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan unik: bagaimana mempertahankan nilai-nilai keislaman yang otentik sambil menyiapkan lulusan yang mampu berkompetisi di era digital? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana akademis, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dijawab oleh setiap institusi pendidikan Islam, termasuk STIT Babussalam Aceh Tenggara.
Tradisi pesantren yang telah mengakar ratusan tahun di Nusantara memiliki keunggulan dalam pembentukan karakter dan spiritualitas. Namun, metode pembelajaran yang konvensional sering kali dianggap kurang relevan dengan tuntutan zaman. Di sisi lain, pendekatan modern yang terlalu sekuler dapat mengikis nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan tarbiyah.
Artikel ini mengeksplorasi bagaimana STIT Babussalam dan lembaga pendidikan Islam lainnya dapat mengintegrasikan kearifan tradisi pesantren dengan inovasi pedagogik modern, menciptakan model pendidikan Islam yang kontekstual, transformatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.
Tradisi Pesantren: Kekuatan yang Tak Lekang Waktu
Sistem Pembelajaran Holistik
Tradisi pesantren memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari sistem pendidikan formal pada umumnya. Pembelajaran di pesantren tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter (tarbiyah). Santri tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari dengan kyai dan sesama santri.
Sistem pembelajaran ini menghasilkan ikatan emosional dan spiritual yang kuat antara guru dan murid. Nilai-nilai seperti ta’dzim (penghormatan), sabar, tawadhu’ (rendah hati), dan ukhuwah (persaudaraan) tertanam melalui pembiasaan sehari-hari, bukan hanya teori di kelas.
Metode Sorogan dan Bandongan: Personalisasi Pembelajaran
Metode sorogan (individu membaca kitab di hadapan kyai) dan bandongan (pembelajaran klasikal dengan kitab kuning) telah terbukti efektif selama berabad-abad. Sorogan memungkinkan pembelajaran yang dipersonalisasi sesuai kemampuan santri, sementara bandongan membangun semangat belajar kolektif.
Metode ini mencerminkan prinsip pembelajaran yang kini populer di dunia pendidikan modern: differentiated instruction dan collaborative learning. Pesantren telah menerapkan prinsip-prinsip ini jauh sebelum teori-teori pedagogik Barat memformulasikannya.
Lingkungan Belajar yang Kondusif untuk Spiritualitas
Kehidupan pesantren yang terstruktur dengan shalat berjamaah, pengajian rutin, dan aktivitas ibadah lainnya menciptakan atmosfer spiritual yang mendukung pertumbuhan iman. Lingkungan seperti ini sulit ditemukan di institusi pendidikan umum.
Pedagogik Modern: Tuntutan Era Digital
Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa
Pedagogik modern menekankan peran aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran (student-centered learning). Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri, bukan hanya menerima informasi secara pasif.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Islam tentang menuntut ilmu: Allah SWT memerintahkan manusia untuk berpikir (tafakkur), merenungkan (tadabbur), dan mengamati (i’tibar) alam semesta sebagai ayat-ayat-Nya.
Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran
Era digital menuntut lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. E-learning, blended learning, dan pemanfaatan aplikasi edukatif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Teknologi memungkinkan akses terhadap sumber belajar yang tak terbatas, kolaborasi global, dan pengembangan keterampilan digital yang esensial di abad ke-21. Mahasiswa calon pendidik harus menguasai teknologi agar mampu mengajar generasi digital natives.
Penilaian Autentik dan Portofolio
Pedagogik modern juga mengubah cara penilaian pembelajaran. Alih-alih hanya mengandalkan ujian tertulis, penilaian autentik mengukur kemampuan mahasiswa dalam konteks nyata melalui proyek, presentasi, dan portofolio.
Pendekatan ini lebih holistik dan memberikan gambaran komprehensif tentang kompetensi mahasiswa, tidak hanya aspek kognitif tetapi juga psikomotorik dan afektif.
Sintesis: Model Integrasi untuk Pendidikan Islam Kontemporer
1. Menjaga Ruh Tarbiyah dalam Pembelajaran Digital
Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Dalam mengintegrasikan teknologi, lembaga pendidikan Islam harus memastikan bahwa ruh tarbiyah—pembentukan karakter dan spiritualitas—tetap menjadi prioritas utama.
Praktik Konkret:
- Menggunakan platform e-learning untuk diskusi kajian kitab klasik, memungkinkan mahasiswa yang tidak bisa hadir secara fisik tetap mengikuti pengajian
- Membuat aplikasi mobile untuk tracking ibadah harian mahasiswa (shalat, dzikir, tilawah) dengan pendekatan gamifikasi yang positif
- Memanfaatkan media sosial untuk dakwah dan literasi Islam yang moderat dan kontekstual
2. Transformasi Metode Sorogan-Bandongan ke Era Digital
Esensi metode sorogan (personalisasi) dan bandongan (kolaborasi) dapat ditransformasikan ke dalam format digital tanpa kehilangan substansinya.
Praktik Konkret:
- Digital Sorogan: Dosen memberikan feedback personal melalui video atau voice note untuk tugas mahasiswa, menciptakan hubungan guru-murid yang dekat meskipun berbasis teknologi
- Virtual Bandongan: Mengadakan kajian kitab secara live streaming dengan fitur chat interaktif, memungkinkan mahasiswa dari berbagai lokasi belajar bersama
- Learning Management System (LMS) yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan Islam, bukan sekadar adopsi platform umum
3. Mengembangkan Literasi Digital Islami
Mahasiswa calon pendidik harus dibekali kemampuan untuk menavigasi dunia digital dengan bijaksana, kritis, dan sesuai nilai Islam.
Praktik Konkret:
- Mata kuliah khusus tentang etika digital Islam: adab bermedsos, menyaring hoaks, menjaga aurat dan privasi di dunia maya
- Pelatihan konten kreator Islami: bagaimana membuat konten edukatif dan dakwah yang menarik di platform digital
- Workshop fact-checking dan critical thinking untuk menangkal radikalisme dan pemahaman Islam yang menyimpang di internet
4. Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Muatan Nilai Islam
Project-based learning memungkinkan mahasiswa mengaplikasikan ilmu dalam konteks nyata sambil memperkuat nilai-nilai keislaman.
Praktik Konkret:
- Mahasiswa PAI membuat modul pembelajaran agama Islam untuk anak-anak usia dini yang interaktif dan berbasis digital
- Mahasiswa MPI merancang sistem manajemen lembaga pendidikan Islam berbasis aplikasi yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam
- Mahasiswa PGMI membuat media pembelajaran berbasis augmented reality untuk mengenalkan rukun Islam kepada siswa SD/MI
5. Membangun Komunitas Belajar yang Spiritual dan Intelektual
Esensi pesantren sebagai komunitas belajar (learning community) yang kuat harus dipertahankan, bahkan di era digital.
Praktik Konkret:
- Membentuk study group online untuk mahasiswa dengan minat akademik yang sama
- Mengadakan webinar rutin dengan tokoh ulama, akademisi, dan praktisi pendidikan Islam dari berbagai daerah
- Memfasilitasi forum diskusi online yang moderat dengan panduan adab berdiskusi Islami
6. Penilaian Holistik: Kognitif, Afektif, dan Spiritual
Sistem penilaian harus mengukur tidak hanya penguasaan materi, tetapi juga perkembangan karakter dan spiritualitas mahasiswa.
Praktik Konkret:
- Portofolio spiritual: mahasiswa mendokumentasikan perjalanan spiritual mereka, renungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, dan refleksi pengalaman ibadah
- Penilaian akhlak melalui observasi perilaku sehari-hari, testimoni teman sejawat, dan self-assessment
- Capstone project yang mengintegrasikan kompetensi akademik dengan nilai sosial dan keislaman, misalnya program pengabdian masyarakat berbasis masjid atau madrasah
Studi Kasus: Implementasi di STIT Babussalam Aceh Tenggara
Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang mengusung semangat “Menyatukan Ilmu, Iman, dan Akhlak”, STIT Babussalam Aceh Tenggara memiliki posisi strategis untuk menjadi model integrasi tradisi pesantren dan pedagogik modern.
Program Unggulan yang Dapat Dikembangkan:
1. Pesantren Kampus Digital Mengintegrasikan sistem asrama dengan teknologi: smart dormitory dengan sistem IoT untuk monitoring ibadah, keamanan, dan kesehatan mahasiswa tanpa mengurangi nilai privasi dan kehangatan interaksi manusiawi.
2. Hybrid Learning untuk Mata Kuliah Keislaman Kajian kitab kuning dilakukan secara tatap muka untuk mempertahankan tradisi dan interaksi langsung dengan dosen, sementara diskusi lanjutan, tugas, dan pengayaan materi dilakukan melalui platform digital.
3. Pusat Inovasi Pembelajaran Islam Mendirikan pusat riset dan pengembangan media pembelajaran Islam yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Pusat ini menghasilkan konten edukatif Islam yang berkualitas untuk disebarluaskan ke sekolah dan madrasah di Aceh Tenggara.
4. Kemitraan dengan Pesantren Lokal Membangun program magang mahasiswa di pesantren-pesantren tradisional di Aceh Tenggara untuk belajar langsung tentang sistem tarbiyah, sekaligus membantu pesantren dalam adopsi teknologi pembelajaran.
5. Kurikulum Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Mengembangkan mata kuliah dan program yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam universal dengan kearifan lokal masyarakat Aceh, mempersiapkan mahasiswa menjadi pendidik yang kontekstual dan relevan dengan budaya setempat.
Tantangan dan Solusi
Tantangan 1: Resistensi terhadap Perubahan
Tidak semua dosen dan mahasiswa siap menerima perubahan metode pembelajaran, terutama yang sudah terbiasa dengan cara tradisional.
Solusi:
- Mengadakan pelatihan dan workshop berkelanjutan untuk dosen tentang pedagogik modern dan penggunaan teknologi
- Melibatkan dosen senior sebagai champion of change yang dapat menjadi teladan bagi dosen junior
- Memberikan insentif dan penghargaan bagi dosen yang inovatif dalam pembelajaran
Tantangan 2: Keterbatasan Infrastruktur dan Akses Internet
Aceh Tenggara masih memiliki keterbatasan infrastruktur teknologi, terutama di daerah pedalaman.
Solusi:
- Mengembangkan konten pembelajaran yang dapat diakses secara offline
- Menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dan provider telekomunikasi untuk meningkatkan akses internet di kampus
- Menyediakan laboratorium komputer dan wifi gratis yang memadai di kampus
Tantangan 3: Menjaga Keseimbangan antara Tradisi dan Inovasi
Ada risiko kehilangan identitas sebagai lembaga pendidikan Islam ketika terlalu fokus pada modernisasi.
Solusi:
- Menetapkan nilai-nilai inti yang tidak boleh dikompromikan: keimanan, akhlak, dan komitmen terhadap ilmu
- Melakukan evaluasi berkala terhadap setiap inovasi: apakah mendukung atau justru melemahkan tujuan pendidikan Islam?
- Melibatkan ulama dan tokoh masyarakat dalam proses pengembangan kurikulum dan program


Leave a Reply