Di era media sosial, narasi agama seringkali direduksi menjadi quote singkat atau meme yang sensasional. Dua konsep sentral dalam Islam—Jihad (perjuangan) dan Tasamuh (toleransi)—paling rentan terhadap distorsi. Kelompok ekstremis menggunakan ayat-ayat tertentu secara parsial dan out-of-context untuk membenarkan kekerasan dan intoleransi, sementara kelompok sekuler terkadang salah memahami Jihad sebagai konsep yang sepenuhnya usang.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah berkomitmen menghasilkan Sarjana Tafsir yang memiliki kedalaman metodologi (Manhaj) untuk mengembalikan kedua konsep ini pada makna Al-Qur’an yang komprehensif dan moderat (Wasathiyyah). Lulusan kami dipersiapkan menjadi Penjaga Narasi yang mampu melawan interpretasi dangkal dan ekstrem di ruang digital.
Tiga Strategi STIQ dalam Pembentukan Sarjana Tafsir Moderat
STIQ Ash-Shiddiqiyah melatih mahasiswanya untuk menganalisis ayat-ayat kontroversial dengan alat Fikih dan Tafsir yang kuat:
1. Memahami Jihad Secara Komprehensif (Jihad Akbar)
Ayat-ayat tentang Jihad harus dipahami dalam konteks sejarah, Asbabun Nuzul, dan klasifikasi Fikih.
- Klasifikasi Jihad: Mahasiswa dilatih membedakan jenis Jihad, mulai dari Jihad Akbar (perjuangan melawan hawa nafsu) hingga Jihad dalam konteks pertahanan diri. Mereka mempelajari bahwa Jihad paling fundamental dan permanen adalah perjuangan intelektual, pendidikan, dan moral.
- Kajian Ayatul Qital: Melakukan kajian mendalam terhadap ayat-ayat perang (Ayatul Qital), memastikan ayat-ayat tersebut dipahami dalam kerangka keadilan, proporsionalitas, dan larangan melampaui batas, bukan sebagai perintah umum untuk agresi.
2. Menginternalisasi Tasamuh dan Dialog Lintas Iman
Konsep toleransi harus berakar pada pemahaman yang benar tentang tauhid dan kebebasan beragama.
- Prinsip Lakum Dinukum Walayadin: Sarjana Tafsir dilatih mengkaji ayat-ayat yang menjadi landasan toleransi beragama di bawah naungan tauhid, seperti prinsip “Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku” (QS. Al-Kafirun: 6) dan larangan pemaksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah: 256).
- Etika Diskursus Digital: Lulusan dibekali skill komunikasi untuk terlibat dalam dialog digital yang konstruktif dan sopan, melawan budaya caci maki dan hoax yang merusak Tasamuh.
3. Membangun Otoritas Intelektual di Ruang Publik
Untuk melawan narasi ekstremis, dibutuhkan narasi tandingan yang kuat dan kredibel.
- Analisis Manhaj Kelompok Sesat: Mahasiswa mempelajari metodologi penafsiran yang salah yang digunakan oleh kelompok-kelompok ekstremis (seperti takfiri atau khawarij) untuk memanipulasi pemuda.
- Publikasi dan Konten Mencerahkan: STIQ mendorong lulusannya untuk menggunakan platform digital sebagai sarana dakwah moderat, menghasilkan konten Tafsir yang ilmiah, mudah dipahami, dan menekankan nilai-nilai kedamaian serta kemaslahatan (Maslahah).
Memilih STIQ Ash-Shiddiqiyah berarti memilih menjadi cendekiawan yang berintegritas. Lulusan kami adalah ahli Tafsir yang siap menghadapi tantangan Abad ke-21, memastikan bahwa Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diajarkan sebagai petunjuk keadilan, kasih sayang, dan kedamaian bagi seluruh alam.


Leave a Reply