Simbiosis Spiritualitas dan Silikon: Reaktualisasi Konsep “Murabbi” di Era Kecerdasan Buatan

·

·

Dalam diskursus pendidikan modern, kehadiran Artificial Intelligence (AI) seringkali dipandang secara biner: sebagai alat bantu yang revolusioner atau ancaman yang mendegradasi kemanusiaan. Namun, bagi institusi seperti STIT Babussalam, tantangannya jauh lebih dalam dari sekadar teknis literasi digital. Pertanyaan besarnya adalah: Di manakah posisi “Tarbiyah” ketika algoritma mulai mampu menggantikan peran transfer pengetahuan?

Melampaui Transfer Informasi

Selama dekade terakhir, dunia pendidikan terjebak dalam pola transfer of knowledge. Di titik inilah AI menang telak. Mesin mampu menyajikan data lebih cepat dan akurat daripada dosen manapun. Jika STIT Babussalam hanya mencetak guru yang sekadar “tahu materi”, maka lulusannya akan segera usang.

Oleh karena itu, reaktualisasi konsep Murabbi menjadi krusial. Seorang Murabbi bukan sekadar pengajar (mu’allim), melainkan pemelihara, pengasuh, dan pendidik yang melibatkan aspek spiritual (ruhaniyah). AI mungkin bisa memberikan jawaban atas pertanyaan “apa” dan “bagaimana”, namun ia tidak akan pernah bisa menyentuh aspek “mengapa” yang bersifat eksistensial dan etis.

Tarbiyah sebagai “Benteng Etika” di Era Post-Truth

Di tengah banjir informasi, tantangan terbesar generasi saat ini bukan lagi kekurangan referensi, melainkan ketidakmampuan membedakan kebenaran (haq) dari manipulasi (batil). Di sinilah kurikulum tarbiyah yang visioner harus berperan.

STIT Babussalam memiliki peluang untuk memposisikan diri sebagai pusat pengembangan Pedagogi Kritis Berbasis Akhlak. Pendidikan Islam harus bertransformasi menjadi penyaring (filter) di mana mahasiswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara mendisiplinkan teknologi agar tetap tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Ini adalah level pendidikan yang tidak bisa digantikan oleh silikon dan baris kode.

Personalisasi Pendidikan: Antara Algoritma dan Intuisi

AI menawarkan personalized learning berdasarkan data perilaku. Namun, pendidikan Islam mengenal istilah Ittishal—koneksi batin antara guru dan murid. Ke depan, peran pendidik di STIT Babussalam adalah menjadi “Arsitek Pembelajaran” yang mampu memadukan efisiensi algoritma dengan kedalaman intuisi manusia.

Kita tidak sedang melatih mahasiswa untuk bersaing dengan robot dalam hal menghafal, melainkan melatih mereka untuk memiliki Hikmah (kebijaksanaan). Sebuah kualitas yang hanya lahir dari proses tarbiyah yang panjang, perenungan, dan integritas moral.

Kesimpulan: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan

Topik mengenai integrasi iman dan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. STIT Babussalam harus berani melangkah keluar dari zona nyaman pedagogi konvensional. Bukan dengan menjauhi teknologi, tetapi dengan menguasainya tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga pencetak pejuang pendidikan.

Masa depan pendidikan Islam bukan terletak pada seberapa canggih fasilitas digitalnya, melainkan pada seberapa mampu ia melahirkan manusia yang tetap “manusiawi” di tengah gempuran otomatisasi. Di tangan para pendidik yang memahami esensi Tarbiyah-lah, teknologi akan menjadi wasilah (sarana) menuju derajat takwa, bukan tujuan akhir yang membutakan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *