Di era serba digital, semua terasa harus cepat: tugas cepat selesai, informasi cepat didapat, dan sukses ingin cepat diraih. Namun di balik budaya serba instan, banyak anak muda justru merasa lelah, kehilangan arah, dan makin jauh dari makna belajar itu sendiri.
Artikel ini mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk mengenal kembali nilai “pelan tapi tuntas”: belajar dengan tenang, konsisten, dan bermakna tanpa harus kalah dengan tuntutan zaman.
Tantangan Generasi Muda Hari Ini
Generasi muda hari ini hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Jika tidak cermat, kecepatan justru berubah menjadi tekanan.
Beberapa tantangan yang sering muncul:
- FOMO (Fear of Missing Out): Takut tertinggal membuat banyak mahasiswa merasa harus selalu online dan mengikuti semua tren.
- Konsentrasi mudah terpecah: Notifikasi media sosial mengganggu fokus belajar dan ibadah.
- Prestasi diukur dari kecepatan: Bukan lagi seberapa dalam pemahaman, tapi seberapa cepat tugas dikumpulkan.
Dalam jangka panjang, pola ini dapat membuat proses belajar terasa dangkal dan tidak membentuk karakter.
Belajar Pelan Bukan Berarti Kalah Cepat
Islam mengenal konsep istiqamah: melakukan sesuatu dengan konsisten, bukan sekadar meledak-ledak sesaat.
Nilai ini sangat relevan dengan dunia pendidikan modern yang penuh distraksi.
Prinsip “pelan tapi tuntas” dapat diwujudkan dengan:
- Fokus pada satu hal dalam satu waktu: Misalnya, 30 menit benar-benar untuk membaca buku tanpa gawai.
- Menyelesaikan tugas hingga paham, bukan sekadar selesai: Mencatat, merangkum, dan berdiskusi, bukan hanya copy-paste materi.
- Menjadikan belajar sebagai ibadah: Meluruskan niat bahwa menuntut ilmu adalah jalan mendekat kepada Allah dan bermanfaat bagi orang lain.
Dengan cara ini, kecepatan bukan lagi musuh, tetapi alat yang dikendalikan dengan kesadaran.
Peran Teknologi: Kawan atau Lawan?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam meningkat tajam sejak 2023, terutama karena berkembangnya e-learning dan teknologi berbasis AI.
Artinya, teknologi sebenarnya bisa menjadi kawan, bukan musuh.
Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi secara cerdas dengan:
- Menggunakan aplikasi pengatur waktu dan catatan untuk mendukung fokus belajar.
- Mengikuti kelas daring, kajian, atau konten islami yang mencerahkan, bukan sekadar hiburan tanpa arah.
- Membangun portofolio digital: Menulis artikel, membuat konten islami, atau berbagi refleksi ilmiah di platform yang positif.
Kuncinya adalah menjadikan teknologi sebagai alat tumbuh, bukan sumber candu.
Menjadi Mahasiswa yang Tumbuh Utuh
Pendidikan Islam masa kini diarahkan tidak hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kepedulian lingkungan, toleransi, dan cinta tanah air.
Generasi muda diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang seimbang: cerdas, berakhlak, dan peka terhadap sekitar.
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan:
- Menata ulang prioritas: Ibadah, belajar, istirahat, dan aktivitas sosial dijaga proporsinya.
- Menghidupkan budaya membaca dan menulis: Bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk melatih cara berpikir yang lebih dalam.
- Terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan: Menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai amal nyata di tengah masyarakat.
Dengan begitu, kampus dan lingkungan belajar menjadi ruang tumbuh yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga insan yang bermanfaat bagi banyak orang.


Leave a Reply