Pendidikan Indonesia 2025: Di Tengah Krisis Moral, Kesenjangan Digital

·

·

Indonesia memasuki 2025 dengan berbagai PR besar: kesenjangan pendidikan, ketimpangan ekonomi, serta menguatnya polarisasi sosial dan agama. Di tengah gejolak itu, kampus-kampus berbasis keislaman seperti STIT Babussalam dipanggil untuk tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga pendidik yang mampu merawat nalar sehat, akhlak, dan persatuan.

Masalah Utama Pendidikan Indonesia Hari Ini

Beberapa masalah pendidikan yang paling sering disorot pada 2025 adalah:

  • Kesenjangan kualitas antara kota dan desa: masih banyak sekolah di pelosok kekurangan guru tetap, listrik, internet, bahkan bangku belajar.
  • Kesenjangan digital: program digitalisasi berjalan, tetapi infrastruktur dan literasi teknologi belum merata sehingga banyak siswa tertinggal.
  • Kurikulum kurang relevan dengan dunia kerja modern, sehingga banyak lulusan tidak siap menghadapi era AI, otomasi, dan ekonomi kreatif.
  • Tekanan akademik dan kesehatan mental pelajar meningkat, sementara dukungan konseling dan lingkungan belajar yang menenangkan masih terbatas.

Krisis Nilai dan Polarisasi Keagamaan

Di tengah derasnya arus informasi, hoaks dan ujaran kebencian berbasis SARA mudah menyebar dan memicu keretakan sosial. Pemerintah sendiri mendorong peta jalan moderasi beragama 2025–2029 untuk menguatkan toleransi, mencegah konflik vertikal maupun horizontal, dan menjadikan Indonesia teladan hidup damai di tengah keberagaman. Di sinilah peran lembaga pendidikan Islam: bukan hanya mengajarkan fikih dan akidah, tetapi juga membentuk cara beragama yang ramah, inklusif, dan menghargai perbedaan.

Peran Kampus Tarbiyah: Dari Kelas ke Masyarakat

Sebagai kampus tarbiyah, STIT Babussalam memiliki modal kuat berupa lingkungan Islami, pusat kajian moderasi beragama, perpustakaan digital, dan dosen pembimbing yang dekat dengan mahasiswa. Fasilitas ini bisa diarahkan untuk menjawab masalah nasional melalui beberapa langkah: mengintegrasikan isu keadilan sosial, ekologi, dan literasi digital dalam mata kuliah; memperkuat kegiatan riset serta pengabdian masyarakat yang menyasar desa-desa tertinggal; dan membiasakan budaya dialog lintas perbedaan di lingkungan kampus.

Menyiapkan Guru Masa Depan: Melek Teknologi, Kuat Spiritualitas

Guru masa depan tidak cukup hanya mahir mengajar di kelas, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi, memahami psikologi siswa, dan menjadi teladan akhlak. Program studi PAI, MPI, dan PGMI di STIT Babussalam dapat menjadi “laboratorium” lahirnya pendidik yang fasih dengan platform digital, namun tetap berakar pada iman, nilai rahmatan lil-‘alamin, dan kepekaan sosial terhadap realitas kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan di sekitarnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *