Media sosial dan platform digital menjadi sarana utama penyebaran paham ekstremisme agama di Indonesia tahun 2025. Kelompok radikal memanfaatkan grup WhatsApp, Telegram, dan game online untuk merekrut pemuda rentan.
Ancaman Penyebaran Ekstremisme
Rendahnya literasi digital dan pemahaman agama tekstual memudahkan radikalisme menyebar melalui ribuan pesan harian di kanal seperti Telegram. Pemuda usia 20-29 tahun paling rentan karena mencari identitas dan mudah terpapar narasi kebencian di media sosial. Polarisasi sosial pasca-pemilu dan populisme online memperburuk situasi, dengan ekstremisme kini menyasar anak-anak via game daring.
Solusi melalui Pendidikan Moderat
Pendidikan berbasis moderasi beragama efektif menangkal ekstremisme dengan mengintegrasikan kurikulum toleransi, dialog antaragama, dan literasi digital. Program seperti School Religius Culture (SRC) di sekolah menerapkan indikator komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penerimaan tradisi lokal untuk membangun sikap inklusif. Kolaborasi pemerintah, sekolah, dan organisasi seperti NU-Muhammadiyah melalui pelatihan guru dan konter-narasi online memperkuat pertahanan masyarakat.
Peran Pendidikan Islam Kontemporer
Institusi pendidikan Islam modern dapat memimpin dengan inovasi kurikulum yang kontekstual, termasuk pembelajaran moral agama dan kegiatan lintas budaya. Regulasi Kementerian Agama seperti Kepmenag 377/2023 mendukung musyawarah guru untuk mainstreaming moderasi. Pendekatan ini tidak hanya menjawab tantangan digital tapi juga membentuk generasi toleran di tengah ketegangan global.


Leave a Reply